Refleksi Muharram 1448 H,
Spirit Asyura dan Visi Hanura.
Sebuah Catatan atas NGOPI “NGObrol PIntar” RAKYAT
Oleh : Andi Muhammad Nur
(Ketua eLPERISAI Manado)
Tak terasa sudah lebih 3 tahun (terakhir berjumpa 7 Mei 2023) akhirnya hari ini kamis 18 Juni 2026, bisa berinteraksi langsung kembali dengan Tokoh Politik Nusantara Benny Rhamdani yang kini menjabat sebagai Sekjen Partai Hanura, sapaan BRANI masih terucap untuknya (Akronim. Nama Beliau, dan juga faktual sikap sosial politiknya).
Diajak makan malam bersama keluarga besar Hanura Sulut Sulut, ditemani kawan-kawan jurnalis, dan beberapa aktivis pergerakan serta yang cenderung neo-atheis seperti bung Ances.
Menikmati indahnya panorama bibit Pasifik pantai Manado sembari menikmati ikan bakar khas Manado. Sesekali terhibur dengan suara penyanyi yang mengguncang nurani, terlebih lagi dua lagu yang dinyanyikan Bung BRANI.
Lalu dimana korelasi Asyura dan Hanura..??
Nah inilah yang menjadi tradisi sejak dulu yakni berdiskusi, meski sekarang ada pejabat negara yang tak suka atau alergi dengan kosakata DISKUSI atau FGD. Setelah makan malam tersebut dilanjutkan NGOPI di loby hotel beliau nginap, NGOPI terjadi dua kali dalam satu tegukan, Pertama, ngopi untuk menikmati minumannya dan kedua NGOPI “NGObrol Pintar” Rakyat ala aktivis yang dalam proses diHANURAkan.
Topik yang dipercikkan kepada saya adalah mengapa saya memilih Syiah, saya menjelaskan tentang sebuah buku yang mengguncang nalar berfikir saya dimana seorang dokter pemikir sejarah Islam Syiah dalam epilognya pada buah bukunya berkata “wahai saudaraku yang Sunni, jika ada 10 pokok permasalahan antara kalian dan kami; 7 pokok kita tak bisa bertemu dan ada 3 yang kita menemukan titik temunya, mari kita jalan dengan yang 3 bukan dengan yang 7”. Dari situlah kemudian menjadi pemantik lebar sampai kamipun membahas tentang Asyura dan Karbala.
Saat itu saya teringat dengan Kisah Sultan Muhammad Khudabandeh (terkenal sebagai Oljaitu) penguasa Kekaisaran Ilkhanat Mongol ke-8 yang bertahta pada 1304–1316 M. Setelah memeluk Islam, ia berpindah ke ajaran Islam Syiah Dua Belas Imam di bawah pengaruh langsung dari ulama besar Syiah saat itu, yakni Allamah al-Hilli; Jamal ad-Din al-Hasan ibn Yusuf ibn Ali al-Mutahhar al-Hilli atau yang terkenal dengan panggilan Muhaqqiq al-hilli. Tak bermaksud menjadikan diri ini seperti allamah al-hilli, sebagaimana bang BRANI tak menganggap dirinya sebagai sultan khodabandeh. Tetapi suasan semalam, seperti perdebatan al-hilli dengan cendikiawan Hanafiah.
Pertanyaan tentang Syiah dan Karbala dengan kisah epic Asyura, sampai pertanyaan kapan pergi ziarah ke Karbala. Singkat cerita, saya menawarkan kepada beliau dkk untuk bisa hadir di majlis ‘aza Rasulullah Saww yakni sebuah majlis yang menghidupkan malam-malam Asyura dengan berdiskusi dan menceritakan kisah Karbala, tapi sayang, waktu pelayanan beliau dan rombongan yang membatasi karena harus kembali ke Jakarta besok hari (Jum’at hari ini) maka tertunda agenda tersebut. Tapi saya sempat menyampaikan tema yakni korelasi Asyura dan nurani rakyat.
Saya mengutip sabda Imam Husain as di Padang Karbala “jikalau agama datukku Muhammad Saw akan tegak kembali seperti semula dengan terbunuhnya aku, maka bunuhlah aku”, yang bermakna bahwa setiap perjuangan pasti melahirkan pengorbanan dan imam Hussein as mengorbankan dirinya beserta sahabat dan ahlul baitnya demi tegaknya Islam; Tegaknya Kebenaran hakiki.
Lalu bagaimana dengan Hanura..???
Ternyata dalam acara pelantikan Pengurus DPW Partai Hanura sulut, bung Sekjend BRANI atas nama ketua Umum Pak OSO menegaskan 3 arahan utama untuk Hanura Sulut, yakni solidkan barisan sampai akar rumput, menangkan hati rakyat lewat kerja nyata, dan jadikan Hanura partai yang solutif untuk isu ekonomi, pendidikan, dan lapangan kerja di Sulut. Hanura harus jadi rumah besar bagi semua golongan, jangan hanya jadi partai saat pemilu, harus hadir selalu untuk rakyat dari kota sampai kepulauan. (Kutipan berita Lokal)
Solidkan barisan sampai akar rumput.
kita lihat tragedi Asyura 61H, imam Hussein as hanya didampingi 72 pasukan (lintas agama dan suku), tapi mampu melawan 30.000 Pasukan Kuffah, tak mundur meski selangkah dan tak maju selangkah melampaui nilai-nilai kemanusiaan. Kesolidan 72 menjadi spirit perjuangan kemanusiaan disetiap zaman yang sampai-sampai Mahathma Ghandi berkata “Saya belajar dari Husein bagaimana mencapai kemenangan saat dizalimi [atau ditindas]”, dan saat ini kita juga melihat keteguhan Syahid Agung Zaman ini Sayyid Ali Khamenei Qs yang gugur di bom AMIS.
Menangkan hati rakyat lewat kerja nyata,
kita saksikan bagaimana Imam Husain as menjadikan dirinya sebagai Kurban untuk keselamatan manusia, bukan demi Jabatan dan kekayaan, tapi demi kemanusiaan dan kemuliaan manusia merdeka dengan pekikan “Hay Hat minadzillah” Pantang Hidup Terhina..!!.
Jadikan Hanura partai yang solutif untuk isu ekonomi, pendidikan, dan lapangan kerja, Pergerakan kafilah imam Hussein as sejak dari Madinah menuju Makkah dan menuju Kuffah, meski akhirnya terhenti di Padang gersang nainawa yakni Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 H. Perjalanan dimulai dari Makkah tanggal 8 Dzulhijjah (sehari sebelum wukuf di Arafah) dengan 15 kali persinggahan tak henti beliau berucap tentang nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan warisan datuknya Rasulullah Saww, dan peringatan akan bahaya dihidupkannya jahiliahisme Bani Umayyah.
Dan terakhir BRANI mengingatkan kepada semuanya bahwa Hanura harus jadi rumah besar bagi semua golongan, jangan hanya jadi partai saat pemilu, harus hadir selalu untuk rakyat dari kota sampai kepulauan.
Demikian juga dengan kelompok pecinta ahlul bait Nabi Saww yang disebut Syiah senantiasa meneriakkan Slogan “Kullu yaumin Asyura, Kullu ardhin karbala” jadikan semua hari adalah hari Asyura dan jadikan semua tempat sebagai Karbala. Bahwa perjuangan melawan kedzaliman dan penindasan serta membela rakyat kaum mustadh’afin tak boleh berhenti disaat kapanpun dan dimanapun, perjuangan demi kemanusiaan haruslah tetap tegak dan abadi.
Semoga dengan kemuliaan Asyura, menjadi spirit perjuangan kita semua khususnya Partai Hanura yang dipimpin Bung OSO BRANI. Alhamdulillah ditengah malam tadi, jeda menulis sesudah shalat, tadarusan dan membaca doa ziarah Asyura dengan izin Allah saya bisa bermunajat kepada Allah dengan bertawasssul kepada Imam Hussein as dan abu Fadhil Abbas as Qamaru Bani Hasyim, agar OSO BRANI diberikan kemuliaan untuk tetap tegak dalam kebenaran menyambut seruan kemanusiaan Imam as di Hari Asyura, Sehatan wal Afiat dan sukses selalu bang. Semoga Allah menganugerahkan kehidupan kepada kami semua sebagaimana kehidupan Nabi Muhammad Saww dan Keluarganya, dan memperoleh akhir kematian sebagaimana nabi Muhammad Saww dan keluarganya, ilahi aamiin.
Pada akhirnya kutipan averoos Imam Ali as kutitipkan kepada abangku OSO BRANI, Imam as bersabda : “Barangsiapa menempatkan dirinya sebagai pemimpin rakyat, ia harus mulai mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain; dan pelajarannya haruslah dengan keteladanan dan perilakunya, bukan dengan kata-katanya, karena mereka yang mendidik orang lain dengan (keteladanan) perbuatannya lebih layak mendapatkan penghormatan ketimbang mereka yang mendidik orang lain hanya dengan kata-kata saja..!!”
Wallahu’alam.










